20
Mar
09

langkah pertama (Musashi)

untuk melangkah, selalu membutuhkan bahan bakar. seperti pesawat yang hendak lepas landas, ia selalu membutuhkan avtur atau bensol. yah begitu juga manusia. ia yang ingin menciptakan ‘sesuatu’ dalam hidupnya selalu menciptakan beberapa langkah berbeda dengan semuanya.

mengingat kembali buku yang menarik berjudul Musashi yang juga lebih tepat disebut sebagai bantal menawan, di sana selalu menggembor-gemborkan sesuatu yang disebut dengan keseriusan dalam mengerjakan semua hal. aku tidak melawan statement menarik itu, hanya saja aku lebih tertarik denganpola yang dilakukna oleh Takezo (nama lama Musashi) untuk menjadikan dirinya menjadi ahli pedang paling hebat. ia pertama kali harus melakukan kesadaran diri bahwa semua masa silamnya perlu di bereskan, baru kemudian ia mampu mengamati jelas masa depannya.

begitulah aku mengatkan bahwa pertama kali untuk mengubah arahmu, ketahuilah sejarah dirimu. buat dua kolom di sebuah kertas, kolom kiri bertuliskan kenangan pahit, kolom kanan bertuliskan kenangan manis. lalu berimajinasilah untuk mengingat semua memori pahit dan manis ini.

pada tahapan pertama, maka akan muncul banyak sekali airmata atau tawa. tapi teruslah melaju untuk mengingatnya apapun godaan untuk berhentii. kau akan mengetahui sendiri rasanya memiliki sejarah. ini penting untuk mengetahui bahwa kau masih punya kesempatan HARI INI UNTUK MENCIPTAKAN SEJARAH BARU. oke ini adalah langkah pertama. segera ambil kertas dan lakukanlah. aku melakukannya sambil menangis selama berminggu-minggu. diakhiri ketika perjalanan dari pernikahan teman KKN di Tasik yang membuatku menangis tersedu di bus malam. sendirian.

10
Mar
09

step-step perubahan (pengantar)

ketika engkau percaya , benar-benar percaya pada keberhasilan. tiba-tiba tangan tak terlihat menuntunmu dengan sangat anggun (syahafif)

Manusia, dalam proses perjalanan hidupnya mengalami banyak perubahan. mulai dari awalnya tidk dapat berbuat apa-apa, lalu mulai bisa menangis merengek, lalu tengkurap, merangkak, tertatih berjalan, akhirnya berjalan, bicara, berfikir, lalu menua dan akhirnya kembali lagi menjadi ‘balita tua’. alih-alih hanya mengalami perubahan, manusia sungguh memerlukan perbaikan.

langkah perbaikan kadang di acuhkan karena sudah terkurung oleh yang disebut dengan rutinitas. maka perlu keluar secara sadar dari keterkungkungan terakhir. ada yang berusaha keluar dengan cara jalan-jalan, ada yang dengan pergi ke suatu tempat baru, ada yang menumpahkannya dalam bentuk tulisan, ada juga yang mengikuti seminar-seminar baru. semuanya oke-oke saja, asalkan mampu memberikan satu hal : kesadaran.

kesadaran adalah salah satu hal yang mutlak dimiliki sebelum kita mampu menjadikan semuanya menjadi nyata. kesadaran yang akan menuntut kita untuk menentukan arah hidup, memaafkan masa lampau atau belajar darinya, lalu mulai bergerak dengan efektif. maka hal pertama yang perlu dilakukan adalah : mengetahui sejarah diri, mengulasnya, memaafkan atau belajar darinya. topik bahasan ini kemudian akan dibahas lebih jauh oleh saudara saya Umar Syahafif. bersambung…

08
Mar
09

hati dari batu

kompleksitas yang melampaui batas. menjelma menjadi satu batu. disebuah rongga dada. “aku terbaik”katanya. segera ia menunjukan sukanya. memerintah prajurit untuk melunasi setiap hutang mulut perut dan satunya. hinga terpilih menjadi si lalim.(Syahafif-puisi)

kalau kembali melihat puisi puisi dari Rendra, Sapardi, Sutardji, Taufik Ismail, Clurit Emas, dan serangkaian nama lain kelihatannya ada satu yang membedakan dengan mereka yang mengatakan diri sebagai sastrawan belakangan ini. mereka senantiasa menampilkan rasa yang mereka jumpai dalam pandangan “perlu tindakan perubahan” sehingga para pembacanya merasakan ada alunan, percikan, bahkan kecipak bening air jiwa untuk bergerak, berubah, dan mengubah dunia. sayangnya ini mulai memudar seiring zaman. belakangan ini para mereka yang mengaku sebagai sastrawan memilih untuk menjadi “super hero” yang bisa segalanya.

ada banyak tulisan terbaca, menceritakan mengenai Wiski, arak, perempuan, pesta, apapun itu dari sudut pandang : ”

membela mereka sebagai salah satu identitas kebebasan”

serius, ketika melihat tulisan seperti ini (like JOC, SngPnyir,) perasaan menjadi semakin keras. batu, ya seperti batu. semakin lama membaca mereka, semakin keras hati. ketika menemui realitas sosial seperti pembunuhan, pelecehan, korupsi, penggusuran, memudarnya solidaritas dan ukhuwah, semuanya menjadi nonsense.. hati telah mengeras, so mengapa mereka menamakan diri mereka sebagai sastrawan (paling tidak dalam hatinya)? ya mungkin sastrawan

sastrawan berhati batu

07
Mar
09

Mengulas Diri lebih jujur

kalau engkau mengaca di depan kaca, engkau akan menemui teman paling setia sekaligus musuh paling licik di dunia (umar syahafif)

kawan, manusia memiliki keterbatasan dan dengan keterbatasan itulah ia unggul. ah, berbelit,maaf. maksudku keterbatasan itu menjadikan kita menggantungkan segala sesuatunya pada Allah. inilah keunggulan dari kelemahan manusia sobat.

lalu, masa kita cuman menunggu terus dan menunggu kejadian menjadikan kita menjadi manusia yang baru? ini satu kepasrahan atau bunuh diri? ah, jauh dan jauh lebih baik kalau kita sadar sesadar sadarnya bahwa kita berada dalam trek perjalanan yang benar itu, untuk menggapai keunggulan.

trek keunggulan itu menurut seorang kawan hanya dapat dipetik dengan kesadaran akan pengawasan Tuhan. Ah, awalnya aku mengabaikan, namun mengingat banyak keterpurukan masa laluku ternyata di landasi oleh ketidaksadaran (baca : kealpaan) , maka ini saat tepat bagiku dan mungkin bagimu untuk memulai memperbaiki diri kawan.

perbaikan yang dilandasi dari mengulas diri lebih jujur. mengakui kesalahan-kesalahan yang telah terlampaui. mengaca dengan lebih jujur. dan kemudian mengatakan: stop. aku sudah muak menjadi seburuk ini. ini detik awal perubahanku. Anda saksinya… okey…

jadilah saksiku sobat..

06
Mar
09

Puisi Kawanku

ini puisi yang ditulis oleh kawanku… coba resapi aje ye… cuman gak usah banyak-banyak… coz bisa bikin pusing

SAJAK ANDI MAGADHON
ODE MIMPI LELAKI TUA DIMASA MUDA
TO: Bp Furqon Kamilin

terasa waktu
berlepasan ditubuhku
bagai daun gugur
dibatang pohon
yang beranjak tua
dan aku merasakannya.
disetiap nafas terhempas
melalui rongga dadaku
yang mulai payah

Mimpi-mimpi
dimasa mudaku padam
bagai gemintang yang lenyap diakhir subuh
dimana digenggamanku
tak berisi janji esok hari
hingga segalanya menjadi keluh
menggumpal menyesakkan dada

atas kelalaianku
berburu dimasa muda
betapa kedua tanganku
tak dapat membantu mencegah
reruntuhan waktu terjadi
Kini senja mulai mengental
dimataku yang rabun
dan sisa-sisa mimpi masa muda
yang ikut menghancur
dalam penyesalan
tak bisa mengembalikan
segala-galanya
dihari tuaku yang rapuh
oleh berjuta kenangan
yang menumpuk
membebani kedua pundakku

namun,…
meskipun aku tak menjadi
bagian dari mimpi mudaku
dari tubuh rentaku ini
betapa aku masih bisa tersenyum
atas kebanggaan diriku
dimana aku pernah bermimpi
menjadi apa yang kuinginkan
atas mimpi dimasa mudaku

Yogyakarta, 27 12 2008

wuss mantap sekali puisi ini. menteenye Ust Sulkhan